KABUPATEN BOYOLALI – Nuansa kemerdekaan
terasa sangat kental di Kabupaten Boyolali. Semangat perayaan Hari Ulang Tahun
(HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dirasakan di
perkampungan dan perkotaan, tetapi juga di berbagai Pondok Pesantren. Santri
dan pengajar di Boyolali menyambut momen bersejarah ini dengan rangkaian
kegiatan yang memadukan tradisi keagamaan dan semangat nasionalisme.
Lomba 17 Agustus dilaksanakan di lapangan timur
Pondok Pesantren Afaada selama dua hari, yaitu pada tanggal 15-16 Agustus 2025,
dan berlangsung dengan sangat meriah. Para siswi berkompetisi untuk memenangkan
berbagai lomba yang telah disiapkan. Perlombaan dimulai pada pukul 13.05 WIB
dan berakhir pukul 15.30 WIB.
Setelah pulang sekolah, para siswa berkumpul di
lapangan timur Pondok Pesantren Afaada untuk mengikuti lomba 17-an. Suasana
menjadi sangat riang dengan berbagai lomba yang telah dimodifikasi agar sesuai
dengan nilai-nilai pesantren. Lomba-lomba tersebut tidak hanya menguji
ketangkasan, tetapi juga kekompakan dan kreativitas. Beberapa lomba yang
diselenggarakan antara lain: lomba dotnyong, lomba estafet sarung, lomba balon
goyang, lomba estafet air, dan lomba estafet karet.
Pada hari pertama lomba, Jumat, 15 Agustus 2025,
diadakan tiga lomba, yaitu lomba estafet sarung, lomba dotnyong, dan lomba
balon goyang. Lomba pertama adalah estafet sarung, di mana para santri berbaris
dan berlomba memindahkan sarung dari satu orang ke orang lain tanpa menggunakan
tangan, melatih kerja sama tim yang baik. Setelah itu dilanjutkan dengan lomba
dotnyong dan lomba balon goyang.
Pada hari kedua lomba, Sabtu, 16 Agustus 2025,
diadakan dua lomba, yaitu lomba estafet karet dan lomba estafet air. Lomba
estafet karet dilaksanakan terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan lomba
estafet air.
Perlombaan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh para siswa putri SMP dan SMA Pondok Pesantren Afaada secara berkelompok. Menurut Mbak Isma Kiki Lestari selaku panitia lomba 17-an putri, lomba ini diharapkan dapat meningkatkan solidaritas para santri dan membuat mereka yang mengikuti maupun menonton lomba merasa senang. “Saya berharap para siswa dapat belajar pentingnya kerja sama tim dan meningkatkan solidaritas antar siswa. Saya juga berharap setiap peserta merasa senang dalam mengikuti lomba ini,” ujar Mbak Isma Kiki Lestari.
Lomba 17-an ini berlangsung sangat meriah. Para siswi,
baik yang mengikuti maupun yang menonton, menikmati jalannya lomba dengan
antusias tinggi. Menurut Raissya Salwa Putri Kirani, salah satu peserta lomba,
“Lomba 17 Agustus yang diselenggarakan kemarin sangat meriah. Suasana hari yang
cerah menambah semarak dan memunculkan nostalgia hari kemerdekaan Indonesia.”
Meski acara 17 Agustus berlangsung meriah, tidak lepas dari beberapa hambatan
yang dihadapi selama pelaksanaan. Diantaranya ialah ruang terbuka yang terbatas, kesulitan
memodifikasi lomba, serta kesulitan mengkoordinasi peserta. Selain itu
keterbatasan waktu juga menjadi tantangan dalam mengatur jalannya lomba supaya
tetap sesuai jadwal.
Secara keseluruhan, kegiatan lomba 17 Agustus ini menjadi langkah awal bagi siswa dan siswi Pesantren Afaada dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Kegiatan ini menjadi wujud nyata bagaimana tradisi dan nilai-nilai nasionalisme dapat dipadukan dengan Pendidikan Pesantren yang penuh kedamaian dan kekompakan. Kami berharap semoga para siswa dan siswi tidak hanya belajar untuk berlomba dan menang, tapi juga belajar menghargai proses, mengasah kreativitas, dan saling mendukung satu sama lain. Kami juga berharap agar pesantren bisa terus menjadi tempat yang mendukung tumbuhnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air yang kuat, sehingga para generasi muda ini kelak siap melanjutkan perjuangan bangsa dengan penuh tanggung jawab dan integritas.
Susunan Redaksi:
§ Mufidah Nurul Khasanah: Redaktur
§ Dira Aulia Putri : Editor
§ Annisa
Wahyu Islami :Jurnalis
§ Zahra Maulida Sani : Jurnalis
§ Ngiza
Syifaul Fuada : Jurnalis
§ Fannisya
Amalia Zahra :Jurnalis
.
.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar