Peringatan Sumpah Pemuda Ke-97 di
Pesantren Afaada: Menjaga Tradisi, Merangkul Teknologi
Suatu Pagi dengan
perasaan yang tidak mudah untuk dapat di utarakan ini tepatnya pada Selasa, 28
Oktober 2025, suasana haru dan semangat membara menyelimuti keluarga pondok
Pesantren Afaada. Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-97 tahun ini menjadi sebuah pertanda bahwa semangat persatuan para pemuda pada
tahun 1928 terus hidup dalam sanubari para santri. Di tengah tantangan zaman
yang serba digital dan rentan polarisasi, Pondok pesantren Afaada membuktikan
bahwa lembaga pendidikan seperti ini menjadi benteng kokoh penjaga moral dan
kebangsaan.
Peringatan Hari
Sumpah Pemuda di Afaada bukanlah sekadar rutinitas, melainkan momen
introspeksi. Santri diibaratkan membawa dua amanah yakni menjaga ajaran agama atau
yang biasa di sebut nilai religius dan merawat tanah air kami tercinta.
Keduanya berpadu dalam satu semboyan abadi pesantren yaitu Hubbul Wathan
Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman).
Bapak kepala sekolah SMP
Afaada yakni bapak Noor Habib Mushofa, dalam pidatonya mengingatkan bahwa
semangat Sumpah Pemuda berakar dari intelektualitas dan kesadaran
berorganisasi. Demikian pula di pesantren, semangat itu harus ditumbuhkan
melalui literasi yang kuat. "Jika dahulu pemuda berjuang dengan pena dan
kertas untuk menyusun naskah sumpah, hari ini kalian berjuang dengan keyboard
dan kode program untuk membangun peradaban. Santri tidak boleh gagap teknologi,
karena ruang online adalah medan perjuangan baru untuk membela
negara," ujar beliau.
Peringatan Sumpah Pemuda
ini sekaligus menjadi momentum peresmian "Pojok Baca Digital
Afaada", sebuah fasilitas yang menyediakan akses ke ribuan buku
digital dan jurnal, memastikan santri tidak hanya menguasai ilmu agama
tradisional, tetapi juga ilmu pengetahuan umum dan wawasan kebangsaan.
Komentar
Posting Komentar